Shalat Tarawih Bersama Ayah

     Luama sekali tidak menulis disini :) berikut tulisan terbaru yang kukirim ke redaksi alinea sebelum ramadhan kemarin

    Ramadhan sebentar lagi, bulan yang mulia itu akan hadir menyapa penduduk bumi. Gegap gempita ramadhan akan terasa lagi. Di sore hari akan banyak penjual jajanan di beberapa ruas jalan, di malam harinya masjid - masjid akan dipenuhi jamaah sholat isya dan tarawih. Riuh rendah suara anak anak yang mengaji di masjid akan terdengar lagi. Ah, aku sudah rindu sekali.

Setiap kali ramadhan akan tiba, kenangan kenangan selama bersama keluarga semasa aku kecil terus berputar putar dalam memoriku. Masa dimana bisa sahur bersama walaupun dengan menu alakadarnya, berbuka bersama meskipun dengan hidangan yang itu itu saja tidak membuat aku sedih ataupun kecewa. Ya, karena yang berharga bukanlah hidangannya, tetapi kebersamaan dengan keluarga itu yang paling membekas dalam ingatan. 

Kebersamaan dalam keluarga tak lagi sama setelah ayah tiada. Rasanya seperti ada lubang yang menganga di dalam dada, lubang yang tidak bisa diisi apapun selain kehadirannya. Namun, memori dengan ayah tidak akan pernah kulupa, salah satu yang membekas adalah saat sholat tarawih bersama ayah.

Ayah adalah anak pertama dari 4 bersaudara, ayahnya -yang juga kakekku- meninggal dunia saat usia ayah baru 10 tahun. Di masa kecilnya ia harus pintar menempatkan diri dengan baik, mengayomi ketiga adiknya dan juga patuh pada ibunya. Ditengah keterbatasan ekonomi, nenekku mengusahakan agar anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan yang terbaik, yang pada masa itu parameternya adalah  sarjana. Ayah memilih menempuh pendidikan guru agama dan juga seni. Agama sebagai bekal utama, dan seni sebagai hobinya. Ayah menikah di usia yang tidak lagi muda, di usia 30an, karena beliau memastikan semua adik adiknya bisa mandiri terlebih dahulu. Ayah dipertemukan ibu di sebuah desa di kabupaten Malang, usia ayah dan ibu saat itu terpaut 10 tahun. Di tahun pertama pernikahan mereka lahirlah kakak laki-lakiku. Di tahun ke-2 lahirlah aku, dan di tahun ke-12 pernikahan mereka lahirlah adik laki-lakiku.

 Waktu itu aku baru saja menginjak sekolah dasar, kami baru pindah dari kontrakan yang lama. Lingkungan kami yang baru masih banyak rumah yang belum berpenghuni, fasilitas umum seperti masjid juga belum dibangun. Warga berinisiatif menjalankan sholat tarawih di salah satu rumah yang tidak berpenghuni. Aku, ayah dan kakak laki-lakiku pergi bersama untuk sholat tarawih. Ibu tidak ikut karena saat itu masih mengasuh adikku yang baru lahir. 

Ayahku menjadi imam sholat isya’ dan tarawih kala itu. Setelah kurenungkan hari ini, aku takjub dengan kepiawaian beliau untuk beradaptasi dan mudah diterima dalam lingkungan yang baru, sungguh berbeda sekali denganku. Seperti halnya anak anak yang lain, aku ikut tarawih beberapa rakaat saja, sisanya kami bermain main sendiri di belakang, yang penting tidak berisik. Tidak berapa lama entah kenapa tanpa kusadari aku pun tertidur saat jamaah belum menyelesaikan sholat tarawih. Ketika terbangun aku sudah dalam gendongan ayah yang baru saja sampai depan rumah.  Sebuah kenangan yang terdengar sederhana tapi entah kenapa membekas lama dalam ingatanku.

Setelah masjid dibangun dan penghuni perumahan kala itu sudah cukup banyak, kami tidak lagi sholat tarawih di rumah kosong. Ayah didapuk menjadi takmir masjid, aku dan kakakku juga sudah mulai besar dan punya beberapa teman. Kami memang tak lagi berangkat atau pulang tarawih bersama, tetapi kebersamaan sahur dan berbuka masih kami rasa. 

Tahun demi tahun berlalu, suara bacaan al quran ayah saat menjadi imam sholat tarawih masih terdengar, hingga masanya tiba. Ayah tak lagi mampu menjadi imam karena sakit yang beliau derita. Beberapa bulan kemudian di hari Minggu, Allah panggil ayah untuk menemuiNya. Masjid penuh sesak saat sholat jenazah. Tetangga, rekan sejawat, murid, dan saudara ikut mengantar ayah menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Aku saat itu sedih sekaligus bahagia. Sedih karena kehilangan sosoknya, suaranya, senyumannya, marahnya, cemberutnya, semuanya. Namun, aku juga gembira karena banyak yang peduli padanya, banyak orang yang mendoakannya. Semoga semuanya adalah pertanda bahwa Allah karuniakan ayah husnul hotimah, aamiin yaa robbal ‘alamiin. Suara ayah memang tidak akan pernah kudengar lagi, tapi kenangan tentang ayah akan selalu punya ruang di hati ini, sampai nanti, sampai Allah memanggil jiwa ini. 

 


Positive Believe


Pengalaman kehilangan salah satu orang tua untuk selamanya bukan hal yang langka. Tapi rangkaian kejadian yang terjadi sebelum, saat, atau bahkan saat orang tua sudah tiada menjadi hal yang istimewa karena setiap orang punya cerita sendiri, punya kesan tersendiri. Begitu pun dengan saya, kehilangan ayah kurang lebih 3 tahun yang lalu masih menyisakan kenangan tersendiri. Kesan itu ada bahkan jauh sebelum ketiadaan beliau.

Ayah meninggal karena gagal ginjal atau lebih tepatnya komplikasi ginjal, karena gagal ginjal berdampak pada tekanan darah yang meninggi. Sebelum meninggal, ayah sempat menjalani pemasangan alat untuk cuci darah, namun saat operasi selesai dilakukan, beliau mengalami gagal nafas sehingga koma selama kurang lebih 2 bulan. Selama itu pula pernafasan beliau dibantu ventilator. Selama itu pula beliau mendekam di ruang ICU. Selama itu pula saya menunggu di luar, mondar mandir untuk menebus obat, memeriksakan sampel darah, sampai Allah memberikan keputusan terbaikNya, ayah meninggal tanpa sempat sekali pun membuka mata.

Saat pertama kali diberitakan kondisi ayah yang koma, saya sempat limbung, air mata tak juga berhenti mengalir, lisan ini tak berhenti mengucap istighfar, mohon ampun atas segala dosa yang mungkin sempat terukir sehingga bisa saja Allah sedang menghukum saya saat itu. Seiring berjalannya waktu saya kembali disadarkan, diingatkan dengan melihat banyak peristiwa yang berkelebat selama keseharian saya di rumah sakit. Kemudian saya bisa menerima dengan lapang, dengan tenang, sembari terus berharap keputusan terbaik dari Nya, hingga saat hati ini benar-benar ridho, saat itu juga Allah memberikan keputusanNya.

Allah adalah Sebaik-baik Pendidik, melalui berbagai peristiwa yang terjadi di rumah sakit saya merasa tercerahkan, merasa cobaan yang saya alami bukan lah apa-apa dibandingkan orang lain yang cobaannya jauh lebih sulit. Hal yang paling berkesan adalah saat saya membaca artikel tentang bagaimana berpositive believe, terus berbaik sangka terhadap keputusan Allah, yang akan melahirkan ketenangan jiwa, buah dari baik sangka, ketenangan yang langsung dicurahkan oleh Allah. Bukankah pada akhirnya, jika Allah menakdirkan kita –dan semoga saja begitu- meninggalkan dunia ini dengan sebaik-baik akhir (khusnul khatimah) maka panggilan yang akan diserukan adalah “Wahai jiwa yang tenang ..”? . bacaan tersebut semacam charge, yang memberi saya ketahanan hingga akhir.

Saya tidak menyesal menyikapi kejadian yang lalu dengan sikap tersebut, meskipun masih ada sesal atas dosa-dosa yang mungkin tercipta saat saya berada di rumah sakit selama 2 bulan. Dosa yang mungkin saja semakin menambah durasi saya berada di rumah sakit. Saya mensyukuri pernah mengalami masa-masa itu, masa yang tidak akan terlupakan. Dan semoga saja saat mengalami persoalan serupa, keyakinan atas keputusan terbaikNya tidak sekali pun bergeser dari hati saya, tidak luput dari pemikiran saya.

Allah telah mendidik saya untuk lebih dewasa dalam menghadapi persoalan, lebih peka dan peduli terhadap sesama, dan tentu saja untuk terus melebihkan syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah beri, Allah karuniakan. Tidak berputus asa dari rahmatNya, dari kasih sayangNya, terus mengiba dan berharap hanya padaNya. Hingga Allah menunjukkan jalanNya.



Mulai lagi :)

puh .. puh .. (tiup tiup debu ..)
wah lama nian saya tidak posting ya .. bismillahirrohmanirrohim mau mulai lagi.
setelah bongkar-bongkar file, ada tulisan bagus jadi pengen posting aja, semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, bisa menginspirasi .. aamiin :)