Shalat Tarawih Bersama Ayah

     Luama sekali tidak menulis disini :) berikut tulisan terbaru yang kukirim ke redaksi alinea sebelum ramadhan kemarin

    Ramadhan sebentar lagi, bulan yang mulia itu akan hadir menyapa penduduk bumi. Gegap gempita ramadhan akan terasa lagi. Di sore hari akan banyak penjual jajanan di beberapa ruas jalan, di malam harinya masjid - masjid akan dipenuhi jamaah sholat isya dan tarawih. Riuh rendah suara anak anak yang mengaji di masjid akan terdengar lagi. Ah, aku sudah rindu sekali.

Setiap kali ramadhan akan tiba, kenangan kenangan selama bersama keluarga semasa aku kecil terus berputar putar dalam memoriku. Masa dimana bisa sahur bersama walaupun dengan menu alakadarnya, berbuka bersama meskipun dengan hidangan yang itu itu saja tidak membuat aku sedih ataupun kecewa. Ya, karena yang berharga bukanlah hidangannya, tetapi kebersamaan dengan keluarga itu yang paling membekas dalam ingatan. 

Kebersamaan dalam keluarga tak lagi sama setelah ayah tiada. Rasanya seperti ada lubang yang menganga di dalam dada, lubang yang tidak bisa diisi apapun selain kehadirannya. Namun, memori dengan ayah tidak akan pernah kulupa, salah satu yang membekas adalah saat sholat tarawih bersama ayah.

Ayah adalah anak pertama dari 4 bersaudara, ayahnya -yang juga kakekku- meninggal dunia saat usia ayah baru 10 tahun. Di masa kecilnya ia harus pintar menempatkan diri dengan baik, mengayomi ketiga adiknya dan juga patuh pada ibunya. Ditengah keterbatasan ekonomi, nenekku mengusahakan agar anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan yang terbaik, yang pada masa itu parameternya adalah  sarjana. Ayah memilih menempuh pendidikan guru agama dan juga seni. Agama sebagai bekal utama, dan seni sebagai hobinya. Ayah menikah di usia yang tidak lagi muda, di usia 30an, karena beliau memastikan semua adik adiknya bisa mandiri terlebih dahulu. Ayah dipertemukan ibu di sebuah desa di kabupaten Malang, usia ayah dan ibu saat itu terpaut 10 tahun. Di tahun pertama pernikahan mereka lahirlah kakak laki-lakiku. Di tahun ke-2 lahirlah aku, dan di tahun ke-12 pernikahan mereka lahirlah adik laki-lakiku.

 Waktu itu aku baru saja menginjak sekolah dasar, kami baru pindah dari kontrakan yang lama. Lingkungan kami yang baru masih banyak rumah yang belum berpenghuni, fasilitas umum seperti masjid juga belum dibangun. Warga berinisiatif menjalankan sholat tarawih di salah satu rumah yang tidak berpenghuni. Aku, ayah dan kakak laki-lakiku pergi bersama untuk sholat tarawih. Ibu tidak ikut karena saat itu masih mengasuh adikku yang baru lahir. 

Ayahku menjadi imam sholat isya’ dan tarawih kala itu. Setelah kurenungkan hari ini, aku takjub dengan kepiawaian beliau untuk beradaptasi dan mudah diterima dalam lingkungan yang baru, sungguh berbeda sekali denganku. Seperti halnya anak anak yang lain, aku ikut tarawih beberapa rakaat saja, sisanya kami bermain main sendiri di belakang, yang penting tidak berisik. Tidak berapa lama entah kenapa tanpa kusadari aku pun tertidur saat jamaah belum menyelesaikan sholat tarawih. Ketika terbangun aku sudah dalam gendongan ayah yang baru saja sampai depan rumah.  Sebuah kenangan yang terdengar sederhana tapi entah kenapa membekas lama dalam ingatanku.

Setelah masjid dibangun dan penghuni perumahan kala itu sudah cukup banyak, kami tidak lagi sholat tarawih di rumah kosong. Ayah didapuk menjadi takmir masjid, aku dan kakakku juga sudah mulai besar dan punya beberapa teman. Kami memang tak lagi berangkat atau pulang tarawih bersama, tetapi kebersamaan sahur dan berbuka masih kami rasa. 

Tahun demi tahun berlalu, suara bacaan al quran ayah saat menjadi imam sholat tarawih masih terdengar, hingga masanya tiba. Ayah tak lagi mampu menjadi imam karena sakit yang beliau derita. Beberapa bulan kemudian di hari Minggu, Allah panggil ayah untuk menemuiNya. Masjid penuh sesak saat sholat jenazah. Tetangga, rekan sejawat, murid, dan saudara ikut mengantar ayah menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Aku saat itu sedih sekaligus bahagia. Sedih karena kehilangan sosoknya, suaranya, senyumannya, marahnya, cemberutnya, semuanya. Namun, aku juga gembira karena banyak yang peduli padanya, banyak orang yang mendoakannya. Semoga semuanya adalah pertanda bahwa Allah karuniakan ayah husnul hotimah, aamiin yaa robbal ‘alamiin. Suara ayah memang tidak akan pernah kudengar lagi, tapi kenangan tentang ayah akan selalu punya ruang di hati ini, sampai nanti, sampai Allah memanggil jiwa ini. 

 


Positive Believe


Pengalaman kehilangan salah satu orang tua untuk selamanya bukan hal yang langka. Tapi rangkaian kejadian yang terjadi sebelum, saat, atau bahkan saat orang tua sudah tiada menjadi hal yang istimewa karena setiap orang punya cerita sendiri, punya kesan tersendiri. Begitu pun dengan saya, kehilangan ayah kurang lebih 3 tahun yang lalu masih menyisakan kenangan tersendiri. Kesan itu ada bahkan jauh sebelum ketiadaan beliau.

Ayah meninggal karena gagal ginjal atau lebih tepatnya komplikasi ginjal, karena gagal ginjal berdampak pada tekanan darah yang meninggi. Sebelum meninggal, ayah sempat menjalani pemasangan alat untuk cuci darah, namun saat operasi selesai dilakukan, beliau mengalami gagal nafas sehingga koma selama kurang lebih 2 bulan. Selama itu pula pernafasan beliau dibantu ventilator. Selama itu pula beliau mendekam di ruang ICU. Selama itu pula saya menunggu di luar, mondar mandir untuk menebus obat, memeriksakan sampel darah, sampai Allah memberikan keputusan terbaikNya, ayah meninggal tanpa sempat sekali pun membuka mata.

Saat pertama kali diberitakan kondisi ayah yang koma, saya sempat limbung, air mata tak juga berhenti mengalir, lisan ini tak berhenti mengucap istighfar, mohon ampun atas segala dosa yang mungkin sempat terukir sehingga bisa saja Allah sedang menghukum saya saat itu. Seiring berjalannya waktu saya kembali disadarkan, diingatkan dengan melihat banyak peristiwa yang berkelebat selama keseharian saya di rumah sakit. Kemudian saya bisa menerima dengan lapang, dengan tenang, sembari terus berharap keputusan terbaik dari Nya, hingga saat hati ini benar-benar ridho, saat itu juga Allah memberikan keputusanNya.

Allah adalah Sebaik-baik Pendidik, melalui berbagai peristiwa yang terjadi di rumah sakit saya merasa tercerahkan, merasa cobaan yang saya alami bukan lah apa-apa dibandingkan orang lain yang cobaannya jauh lebih sulit. Hal yang paling berkesan adalah saat saya membaca artikel tentang bagaimana berpositive believe, terus berbaik sangka terhadap keputusan Allah, yang akan melahirkan ketenangan jiwa, buah dari baik sangka, ketenangan yang langsung dicurahkan oleh Allah. Bukankah pada akhirnya, jika Allah menakdirkan kita –dan semoga saja begitu- meninggalkan dunia ini dengan sebaik-baik akhir (khusnul khatimah) maka panggilan yang akan diserukan adalah “Wahai jiwa yang tenang ..”? . bacaan tersebut semacam charge, yang memberi saya ketahanan hingga akhir.

Saya tidak menyesal menyikapi kejadian yang lalu dengan sikap tersebut, meskipun masih ada sesal atas dosa-dosa yang mungkin tercipta saat saya berada di rumah sakit selama 2 bulan. Dosa yang mungkin saja semakin menambah durasi saya berada di rumah sakit. Saya mensyukuri pernah mengalami masa-masa itu, masa yang tidak akan terlupakan. Dan semoga saja saat mengalami persoalan serupa, keyakinan atas keputusan terbaikNya tidak sekali pun bergeser dari hati saya, tidak luput dari pemikiran saya.

Allah telah mendidik saya untuk lebih dewasa dalam menghadapi persoalan, lebih peka dan peduli terhadap sesama, dan tentu saja untuk terus melebihkan syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah beri, Allah karuniakan. Tidak berputus asa dari rahmatNya, dari kasih sayangNya, terus mengiba dan berharap hanya padaNya. Hingga Allah menunjukkan jalanNya.



Mulai lagi :)

puh .. puh .. (tiup tiup debu ..)
wah lama nian saya tidak posting ya .. bismillahirrohmanirrohim mau mulai lagi.
setelah bongkar-bongkar file, ada tulisan bagus jadi pengen posting aja, semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, bisa menginspirasi .. aamiin :)

Tulus Besar


Desa Tulus Besar. Karena ketulusanlah seseorang itu kemudian bisa menjadi besar. Itulah sedikit pelajaran yang bisa saya ambil pada Hari Jum’at yang barokah ini. Adalah Bapak Hudi, salah seorang pemiliik sebuah CV yang mengolah cangkang rajungan menjadi tepung di Desa Tulus Besar, Tumpang, Malang yang membuat saya kagum dan kemudian kenyang akan ilmu yang diberikannya. Pertama kali bertemu dengan beliau, sosok Bapak ini terlihat agak menyeramkan, ternyata setelah beliau mulai berbicara, tidak tanggung-tanggung, berton-ton ilmu yang dikeluarkan oleh beliau membuat saya terhenyak, tersenyum, dan terkagum kagum pada beliau.
 Bapak Hudi yang notabene ’hanya’ lulusan SMA mampu membuat saya berdecak kagum akan ketulusan dan kesungguhan beliau untuk mensejahterakan orang-orang di sekitarnya. Keinginannya membangun sebuah CV itu bisa dikatakan bermula dari sebuah ayat yang menjelaskan bahwa tidak ada yang sia – sia di muka bumi ini.. (Robbana maa kholaqta haadza baathila). Cangkang rajungan yang sebenarnya hanya limbah, diolah beliau menjadi tepung dan diekspor sampai ke manca negara. Usaha yang beliau dirikan tersebut mampu menampung puluhan pekerja yang kebanyakan adalah penduduk sekitar. Usaha yang dijalankan oleh Bapak Hudi baru-baru ini sudah merambah pada pengolahan pupuk organik dan ekspor daun tebu yang sudah kering. Selain itu, wilayah distribusinya sudah meluas kemana-mana.
Kekaguman saya bertambah-tambah manakala mendengar cerita beliau yang mengindikasikan bahwa beliau adalah seorang pembelajar sejati. Bapak Hudi juga adalah seorang yang bekerja di proyek. Profesi ini beliau dapatkan akibat kesungguhannya belajar otodidak semenjak menjadi kuli bangunan. Saat para tukang istirahat atau pulang, maka yang dilakukan Bapak Hudi adalah menghitung-hitung berapa jumlah bata, semen, atau bahkan pasir yang digunakan tiap meter perseginya. Begitu terus setiap harinya, setiap beliau bertemu dengan orang-orang yang ’bertitel’ maka yang dilakukan beliau adalah mendengar dan meminta sedikit ilmu untuk kemudian beliau terapkan. Walaupun bukan seorang lulusan pondok pesantren, aku beliau, sedikit ilmu yang beliau punya ingin langsung diterapkan di lapangan, itulah yang menurut saya kemudian menjadikan usaha beliau menjadi berkah. Beliau bisa menghidupi keluarga, orang – orang sekitar bahkan secara rutin menyumbang anak – anak yatim piatu. Beliau berujar, ”Nggak usah banyak, yang penting ada terus setiap hari yang diberikan ke orang lain.. yang penting istiqomahnya itu lho”. Pesan moral yang sebenarnya ingin beliau sampaikan adalah ketulusan untuk memberi, kerendahan hati, keistiqomahan, ilmu yang kemudian diterapkan, rasa syukur dan qona’ah, dan menjadi pembelajar sejati dalam kampus kehidupan.

Kultwit Salim A. Fillah #Jamil



Dalam Quran yang mulia; 3 kali kata ‪#Jamil {bagus, indah, jelita} disebut sebagai cara melaksanakan perintah Allah pada Nabi & ummatnya. Penyebutan pertama; {QS 15: 85}; sifat ‪#Jamil mengiringi perintah berlapang dada untuk memberi kemaafan; "Fashfahish shafhal jamil."Maka lapangkanlah dada untuk memaafkan mereka dengan kemaafan yang ‪#Jamil [bagus, indah, jelita].." {QS 15: 85}.  Ibn Katsir menafsirkan ‪#Jamil dalam ayat ini dengan {QS 43: 89} "Fashfah 'anhum wa qul salaam.." yakni, "Dan ucapkan salam nan damai."Syaikh Muhammad 'Ali Ash Shabuni memaknai ‪#Jamil dalam kelapangan dada kala memaafkan sebagai; "Pemberian maaf tanpa disertai celaan."

Penyebutan ‪#Jamil yang kedua termaktub dalam {QS 70: 5} sebagai petunjuk pelaksanaan perintah bersabar; "Fashbir shabran jamiila."Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang ‪#Jamil [bagus, indah, jelita]." {QS 70: 5} Yakni, ujar Ibn Katsir, sabarlah hai Muhammad atas pendustaan mereka pada seruanmu, permintaan mereka agar 'adzab didatangkan, & keyakinan mereka bahwa 'adzab takkan terjadi. Dan hendaknya kesabaranmu itu ‪#Jamil; yaitu, ujar Ash Shabuni; kesabaran yang tidak disertai keluh kesah, penyesalan, & pengandaian. Kesabaran ‪#Jamil itu; tanpa kesana-kemari mengisahkan, tanpa menyesali kebaikan yang ditunaikan, & tanpa berandai begini maupun begitu.

Menjaga Hati

Sebuah tulisan yang sebenarnya ditujukan pada kaum Adam, tapi juga layak dikonsumsi kaum Hawa. Diambil dari sebuah blog yang semoga menginspirasi dan menguatkan tekad untuk senantiasa menjaga hati:)





Jangan dulu biarkan guratannya terlalu dalam jika permaisuri itu, sang pribadi sholihah, telah melunakkan hati ini. Mudah sekali namanya tergurat, terukir, dan termemorikan, tapi jangan terlalu dalam. Jika namanya mulai datang, mungkin guratannya akan terasa menggetarkan tapi jangan sampai terlalu, jangan sampai hati ini lepas dari Penggenggamnya, nanti bukan cinta namanya.

Di Sisi Awan Aku Menunggui Hujan


Lama nggak posting, ini mau menpublish tulisan orang yang tersimpan rapi di lepy, lupa nggak ngopy nama penulisnya, yang jelas tulisan di bawah bukan tulisan saya, he. Semoga yang mengarang tidak tersinggung sumbernya tidak dicantumkan, kalau tidak salah ingat saya ambil dari situs fimadani.

---
Teringat serangkaian kisah yang menghampir di selasar pikiran. Satu–satu, kadang bertindih, berebut diungkap dengan ujung pena. Saat burung–burung Sriti mengantar hujan menyambangi muka bumi. Ada ceria, ada hati yang berduka. Ada tawa, ada mulut yang mencibir resah. Namun, yang pasti ada rahmat Tuhan yang sedang tercurah.

Suatu kali dalam sebuah perjalanan, ada hujan mengetuk-ngetuk atap kendaraan yang kutumpangi, mengusap-usap kaca mobilnya, lalu bertemu riang dengan titik-titik lainnya di tanah. Sekitaran perlahan memburam, hawa mendingin melawan polusi yang memanaskan dari segala kendaraan. Seseorang menceracau pada hujan.

Karena Ukuran Kita Tak Sama


 

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi




Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

Hujan



Hujan itu menyenangkan bagiku, bukan karena bisa hujan-hujanan di tengah hujan, tapi yang menyenangkan adalah tatkala aku berada di tengah hujan tapi tak basah, rasakanlah, kau hanya merasakan rintik hujan itu di tangan dan kakimu dan sesekali terpercik ke mukamu, itu menyenangkan walapun dingin kadang menusuk-nusuk kaki dan tangan, tapi di tengah hujan tetaplah nyaman, tanpa takut kan sakit tanpa takut akan terluka. Memandang hujan menjadi sesuatu yang menyenangkan, menyenangkan jika hujan itu serupa rerintik yang bersambung sambung, ia membasahi bumi, membungkus kota dengan air yang tercurah dari langit, menyegarkan yang kering, membersihkan yang kotor. Saat hujan adalah saat yang tepat untuk banyak-banyak berdoa, berdoa untuk diri, keluarga, cita-citamu, dan tentu saja memohon kebaikan hujan agar hujan tidak menjelma menjadi bencana tak berkesudahan. Bau hujan itu menyenangkan, bau air yang meresap di tanah memunculkan bau yang segar .. debu-debu membeku, menyatu dengan tanah membentuk padatan sekaligus becek, tapi baunya menyenangkan.

Sapardi Djoko Damono



Siapa yang tak kenal dengan sosok penyair ini? syair yang dihasilkan beliau sangat sederhana namun terasa dalam dan bertenaga. Maka saya ingin sejenak berguru pada beliau, mengumpulkan beberapa sajak dan merangkum dalam bahasa yang mudah kumengerti, sehingga kelak saya bisa menerjemahkan tiap gigitan peristiwa yang telah dan akan saya lalui:)

Aku ingin ..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..


Duhai Jiwa :)



Duhai jiwa yang merindukan belahan kalbu
Duhai hati yang mendamba cinta tulus suci
Tlah terpatri kini rasa cinta yang sejati
Dengan hadirmu di sini

Duhai cinta kau hadir isi kekosonganku
Duhai rasa berjuta cita penuhi sukma
Bersua di dalam ikatan kasih nan murni
Berdua bersama

Kuterima segala kekurangan dirimu
Kuserahkan hati titip cintaku padamu
Tuhan tuntun langkah kaki tetap di jalanMu
Menapaki indah reguk cinta bersama

Your Life



Ini hidupmu. Lakukan yang kau sukai, dan lakukan sesering mungkin. Jika kau tidak suka sesuatu, ganti. Jika kau tidak suka pekerjaanmu, berhenti. Jika kau tidak punya banyak waktu, tidak perlu menonton televisi. Jika kau mencari cinta dalam hidupmu, berhenti; mereka akan menunggumu saat kau mulai melakukan hal yang kau sukai. Berhenti terlalu menganalisis, semua emosi itu indah. Hidup itu sederhana. Saat kau makan, apresiasi setiap gigitannya. Buka pikiranmu, tanganmu, dan hatimu pada hal baru dan orang baru, kita satu dalam perbedaan. Tanyakan pada orang lain apa passion mereka dan ceritakan mimpi-mimpimu bersamanya. Sering-seringlah bepergian; kehilangan akan membantumu menemukan dirimu. Beberapa peluang hanya akan muncul satu kali, perhatikan. Hidup adalah tentang orang yang kau temui, dan hal yang kau ciptakan bersama mereka, jadi keluarlah dan mulailah menciptakan. Hidup itu pendek. Hiduplah bersama mimpimu dan gunakan passionmu

sumber: dari sebuah gambar

Tidak Bisa Tidak Menangis



sumber: di sini

Tidak bisa tidak menangis
Melihat peristirahatan terakhirmu
Masih lekat dalam ingatan setahun yang lalu
Engkau berpulang pada Yang Maha Menggenggam Kehidupan

Masih lekat dalam ingatan setahun yang lalu
Engkau terbujur kaku di mobil jenazah

Masih lekat dalam ingatan setahun yang lalu
Engkau terbujur tak sadarkan diri di ruang ICU

Sakura



Sakura
Bunga yang hanya tumbuh di daerah Jepang
Bunga yang hanya mekar di musim semi
Hadirnya dinanti oleh para penikmat alam
Maka riuhlah mereka di bawah rerimbun bunga yang bermekaran
Gugurnya meninggalkan sesak di hati
karena bersamaan dengan itu hilang pula keindahan musim semi

Pada akhirnya sakura harus tunduk pada Sang Pencipta
Meskipun mungkin ianya ingin tumbuh di sebarang tempat
Meskipun mungkin ianya ingin mekar sepanjang tahun
Meskipun mungkin ianya ingin merekah sepanjang masa
Meskipun mungkin inginnya dipuji para pengagumnya
Tapi apalah arti puji puja jika Sang Pencipta murka?

Maka merebaklah namanya hingga ujung dunia
Maka berbanggalah orang Jepang menyandangnya
Justru karena ianya hanya tumbuh di jepang
Justru karena ianya hanya mekar di musim semi
Justru karena ianya hanya bertahan 9 hari
Maka mekarnya semakin merekah
Seiring dengan keberkahan yang meruah

Berakhlak Mulia Itu ..



Berakhlak mulia itu boleh jadi sama saja dengan membiarkan orang lain berprasangka buruk, membenci, bahkan memfitnah Anda, sedangkan Anda sendiri selalu berusaha berprasangka baik, menyayangi, bahkan menyanjung orang lain..

Berakhlak mulia itu boleh jadi membuat Anda senantiasa tergugu, sakit, sesak, menangis dalam hati hanya demi benar2 menjaga agar pikiran, lisan, bahkan perbuatan tidak menyakiti orang lain.. sedangkan orang lain boleh jadi seperti air di daun talas, becek mulutnya, becek jemarinya mengetik tidak terbendung.. 

Berakhlak mulia itu bisa jadi membuat Anda berpikiran pendek, ringan hati membantu meski untuk memberikan separuh kekayaan Anda, sedangkan orang lain berpikir sepanjang langit dan bulan, berat hati menolong padahal Anda berhak menerima pertolongan itu..

Berakhlak mulia itu bisa jadi membuat Anda tidak populer, dijauhi bahkan mungkin dimusuhi... sementara Anda sebenarnya tidak melakukan apa-apa selain teguh atas sesuatu yg Anda yakini kebaikannya.. sebaliknya orang2 lain boleh jd disenangi, dipuja2 sejuta umat melakukan sesuatu padahal itu sungguh sebuah keburukan.. 

Berakhlak mulia itu boleh jadi memang tidak pernah mudah.. 

Tapi keponakan-keponakanku yg cantik.. adik-adikku yg manis.. yakinlah.. yakinlah, berakhlak mulia itu akan ditukar dengan wajah yg bercahaya menyenangkan.. dan tahukah kalian, bahkan bayi berumur 6 bulan yg sedang menangispun bisa berhenti lantas tertawa, karena dia tahu persis siapa yang sedang menggendongnya..


Sumber di sini

Nemu



Lagi membongkar isi lemari tiba-tiba menemukan puisi galau. Entah kapan dibuatnya-karena nggak ada tanggalnya-, tapi lumayan bagus lah.. ternyata saya dulu sering galau .. hehe


Kalau rasa ini tak jua menghilang
Biarlah aku  menjelma menjadi 
Burung yang terbang bebas di antara awan-awan
Atau menjadi ikan yang berenang bebas di lautan
Walau mereka punya kesulitan
Mereka bisa menghadapi dengan ketundukan yang pasrah
Rela akan segala ketentuanNya

Menulislah :)



menulislah, karena yakin tulisan kita bisa merubah. 
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menemani.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di salah-satu gedung tinggi, apartemen2, padatnya kota hongkong, di sebuah kamar sempit, lelah setelah bekerja sepanjang hari, dimarahi majikan, kangen negeri sendiri, ada seseorang yg tertawa, menangis, tiba2 merasa begitu bersemangat, memiliki inspirasi, setelah membaca tulisan kita. salah-seorang saudara kita yg jadi TKW. blog, MP, notes kita menjadi penghiburan.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di kolong jembatan, kota yg panas, tanah dgn onta dan korma, di balik dinding kardus. lelah setelah berminggu terkatung menjadi imigran tdk diinginkan, ada seseorang yg tertawa, menyeka pipi, buncah oleh pengharapan, setelah membaca tulisan kita. salah seorang saudara kita yg jadi buruh imigran di arab, terusir seperti gelandangan, tdk ada yg mau mengurusi. blog, MP, wordpress, notes kita menjadi teman.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi, ibu2 buronan besar itu, yg hampir dua tahun minggat, bersembunyi di negeri orang, selalu melepas kerinduan atas tanah air dari rumah kontrakannya, dengan membuka blog, MP, wordpress, notes kita. bahkan tdk sabaran kapan cerbung kita akan bersambung, hendak menyapa takut ketahuan lokasinya.

menulislah, dgn keyakinan bahwa itu bisa merubah, menghibur dan menemani. jangan pedulikan jumlah komen, jumlah like, jumlah pengunjung. menulislah! karena dunia ini akan jauh lbh baik jika semua orang pintar menulis--bukan pintar bicara.

menulislah!

SIfat Asli



Sifat asli kita akan tampak manakala kita dihadapkan pada situasi terburuk. Bagaimana kita bereaksi terhadap hal tersebut  sangat menunjukkan watak asli kita, yang selama ini hanya bersemayam di dalam diri kita, tidak tampak di luar. Pagi ini saya melihat sebuah tayangan yang-walaupun terkesan membuat gara-gara, menjahili orang- pada akhirnya akan menunjukkan bagaimana reaksi orang yang dijahili, itulah watak yang sebenarnya. Memang agak jahat, karena menjahilinya sampai menghujat orang yang dijahili, tapi apalah arti yang menghujat kalau yang dihujat menanggapinya dengan tidak melakukan hal yang sama bukan? Tiga orang yang dijadikan obyek, dan menurut saya juga bisa dijadikan perbandingan. Obyek pertama adalah seorang vokalis band ternama, demi memanfaatkan momentum kehilangan kameranya, para pelaku kejahilan ini menelpon obyek mengaku menemukan kameranya dan akan mengembalikan pada si empunya jika mau membayar  uang seharga 20 juta. Si obyek tidak mau dan menutup perbincangan dengan tenang. Saat ditelpon untuk yang kedua kalinya, obyek dipancing kemarahannya dengan akan mengancam menyebarkan foto di dalam kamera dan mengeditnya sedemikian rupa. Hal ini tentu saja mengancam popularitasnya, sontak si obyek marah dengan mengatakan hewan galak peliharaanya. Saat kemarahan memuncak itulah kemudian para pelaku kejahilan membuka identitasnya.

Tentang Mandi


a.       Definisi Mandi
Mandi adalah meratakan air suci ke seluruh badan dengan cara-cara tertentu. Mandi merupakan bentuk dari keindahan Islam sebagai agama yang cinta kebersihan dan kesucian (1)
Syariat mandi “Dan jika kamu junub, maka mandilah” (QS Al Maidah 6) “jangan hampiri masjid sedang kamu dalam keadaan junub kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi (QS An Nisa’”43) “Jika suatu kemaluan bersentuhan dengan kemaluan lain maka diwajibkan mandi(HR Muslim) (3)

b.      Hal-hal yang mewajibkan mandi
1. keluarnya air mani karena jima’, masturbasi, atau bermimpi
2. bertemunya 2 kelamin laki-laki dan perempuan (HR Bukhari dan Muslim)
3. Meninggal, kecuali syahid
4. Masuk Islam
5. Haid
6. Nifas(1)
6 (3 pertama berlaku untuk laki-laki dan perempuan: bertemunya 2 kelamin, keluar mani, mati) (3 ke-2 berlaku untuk perempuan: haid, nifas, dan bersalin) (2)
·         Jinabah (keluar mani atau tidak) (QS Al Maidah 6)
·         Berhentinya haidh dan nifas (QS Al Baqarah 222).” Berdiam dirilah selama darah hadihmu menahanmu kemudian mandilah (HR Muslim:334)
·         Masuk isalm. Shiroh Rosululloh SAW memerintahkan Tsumammah Al hanafi unuk mandi ketika ia masuk Islam (HR AL Hafizh Abdurrazaq)
·         Mati. Sahih Bukhari saat Rasululllah SAW memerintahkan untuk memandikan jenazah Zainab, putrinya (1255) (3)

c.      Sifat Mandi
         Niat kemudian meratakan air ke badan dengan satu kali mandi (1)
         Fardhunya niat dan menghilangkan najis jika terdapat najis (2)
         Fardhunya; niat (arbain 1), menyiram secara merata dan menggosaoknya, menggosok sela jari, rambut, pusar, dll(3)

d.     Sifat Mandi yang sempurna
         Niat, mencuci ke2 tangan 3 kali, mencuci kemaluan dan kotorannya, berwudhu dengan wudhu yang sempurna, menyiram kepala 3 kali, menyela-nyela rambut dengan tangan, kemudian mencuci bagian tubuh yang lainnya 1x, mendahulukan sisi kanan, menggosoknya dan tidak berlebihan dalam menggunakan air (1)
         Basmalah dan niat untuk menghilangkan hadast besar, membasuh kedua telapak tangannya 3x, membersihkan kotoran (beristinja’) dan membasuh kemaluan, duburnya bagian tubuh di sekitarnya dari kotoran, berwudhu dan berniat menghilangkan hadast kecil, (tanpa membasuh kaki, bisa bersama degan wudhu atau menangguhkan saat selesai mandi)membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam air, mengirai pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya, membasuh kepala dan kedua telianganya sebanyak 3x dengan 3 kali cidukan lalu menyiramkan air ke bagian kanan tubuhnya dari atas ke bawah, menyiram tubuh bagian kiri. Memperhatikan bagian-bagian yang tersembunyi untuk dibersihkan (pusar, dll) (3)


Edisi Misteri



Tulisan yang sudah lama, coba dipublish, semoga bermanfaat

Jodoh, rezeki, maut telah ditetapkan oleh ALLAH SWT, pena telah diangkat dan lembaran tinta telah mengering, maka tak perlu risau atas segala yang belum didapatkan, yang perlu dirisaukan adalah bagaimana cara menjemput ketetapan ALLAH itu dengan sebaik-baik penjemputan, sebaik-baik penerimaan.

Jodoh, entah dijemput dengan pacaran, hubungan tanpa status, atau dengan cara yang ALLAH ridhoi sekalipun, jodoh adalah dia yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, yang menjadikannya berbeda adalah rasa yang dirasakan oleh kedua pasangan, keberkahan yang melingkupi keluarga jika dijemput dengan sebaik-baik cara yang ALLAH ridhoi.