Di Sisi Awan Aku Menunggui Hujan


Lama nggak posting, ini mau menpublish tulisan orang yang tersimpan rapi di lepy, lupa nggak ngopy nama penulisnya, yang jelas tulisan di bawah bukan tulisan saya, he. Semoga yang mengarang tidak tersinggung sumbernya tidak dicantumkan, kalau tidak salah ingat saya ambil dari situs fimadani.

---
Teringat serangkaian kisah yang menghampir di selasar pikiran. Satu–satu, kadang bertindih, berebut diungkap dengan ujung pena. Saat burung–burung Sriti mengantar hujan menyambangi muka bumi. Ada ceria, ada hati yang berduka. Ada tawa, ada mulut yang mencibir resah. Namun, yang pasti ada rahmat Tuhan yang sedang tercurah.

Suatu kali dalam sebuah perjalanan, ada hujan mengetuk-ngetuk atap kendaraan yang kutumpangi, mengusap-usap kaca mobilnya, lalu bertemu riang dengan titik-titik lainnya di tanah. Sekitaran perlahan memburam, hawa mendingin melawan polusi yang memanaskan dari segala kendaraan. Seseorang menceracau pada hujan.

Karena Ukuran Kita Tak Sama


 

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi




Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

Hujan



Hujan itu menyenangkan bagiku, bukan karena bisa hujan-hujanan di tengah hujan, tapi yang menyenangkan adalah tatkala aku berada di tengah hujan tapi tak basah, rasakanlah, kau hanya merasakan rintik hujan itu di tangan dan kakimu dan sesekali terpercik ke mukamu, itu menyenangkan walapun dingin kadang menusuk-nusuk kaki dan tangan, tapi di tengah hujan tetaplah nyaman, tanpa takut kan sakit tanpa takut akan terluka. Memandang hujan menjadi sesuatu yang menyenangkan, menyenangkan jika hujan itu serupa rerintik yang bersambung sambung, ia membasahi bumi, membungkus kota dengan air yang tercurah dari langit, menyegarkan yang kering, membersihkan yang kotor. Saat hujan adalah saat yang tepat untuk banyak-banyak berdoa, berdoa untuk diri, keluarga, cita-citamu, dan tentu saja memohon kebaikan hujan agar hujan tidak menjelma menjadi bencana tak berkesudahan. Bau hujan itu menyenangkan, bau air yang meresap di tanah memunculkan bau yang segar .. debu-debu membeku, menyatu dengan tanah membentuk padatan sekaligus becek, tapi baunya menyenangkan.